Alam Memberikan Harmoni Yang Indah

rumah-bagoes.com | 8 Mei 2008

Melintasi Jalan Sarinande, Seminyak, Kuta, terlihat sebuah rumah berhalaman luas yang dipenuhi sentuhan etnik bernuansa Bali. Berada didalam rumah tersebut, tampak sebuah kolam renang kecil bersebelahan dengan pura dimana sang pemilik rumah biasa menjalankan ibadahnya. Hampir setiap bagian dinding rumah memiliki jendela tembus pandang. Begitu pula pada kamar utama, dari balik jendela kaca terhampar pemandangan asri halaman yang ditumbuhi ribuan anggrek dan tanaman lainnya.

Pura

Keseimbangan antara alam dan kehidupan nyata yang bergulir di dalam rumah itu, memberikan harmoni yang indah, membuat siapa pun yang duduk disetiap sudut rumah nan cantik itu, akan merasa betah dan enggan beranjak.

Milo Migliavacca, yang setelah menganut Hindu mengubah namanya menjadi I Gde Putu Wijayana, adalah sang pemilik rumah. Rumah luas nan asri itu menjadi tempat budidaya beragam jenis anggrek, baik spesies maupun hibrida. Milo memantau seluruh perkembangan bisnis anggreknya. Selain di Seminyak ia juga memiliki kebun anggrek lain di desa Goblek, Singaraja, yang luasnya dalam hitungan hektar.

Milo, sapaan akrabnya, berpostur tinggi, ramping dengan rambut sebahu yang selalu diikat. Di usia senjanya ia terlihat tetap enerjik dan mengasyikan diajak berbincang-bincang. Selain sebagai pengusaha anggrek, ia pun ternyata berprofesi sebagai disainer fashion. Kecintaannya pada anggrek memang agak berbeda dengan dunia fashion. Kali ini kita menggali lebih jauh mengapa begitu mencintai tanaman yang satu ini.

Menurut penuturannya, semua berawal dari Milano, Italia. Milo remaja memiliki kebiasaan melihat anggrek yang dijual dengan harga sangat mahal di toko-toko bunga di negeri asalnya. Setiap kali melihat anggrek-anggrek tersebut, angannya langsung menerawang ke negeri tropis nun jauh dari Milano, tempat bunga-bunga ini berasal.

“Setiap kali melihat bunga anggrek yang dijual di Milano, saya selalu berangan-angan untuk mendatangi negara-negara tropis penghasil bunga anggrek itu" ungkap Milo.

Tidak dinyana mimpi Milo menjadi kenyataan, ketika ia pada tahun 1973 menjejakan kakinya pertama kali di Bali. Saat itu, Seminyak masih berupa hutan belantara. Masyarakat sekitar enggan menempati daerah itu. Justru di tempat inilah Milo mulai mewujudkan mimpi-mimpinya.

“Saya mulai melihat anggrek di rumah penduduk sekitar. Biasanya mereka memiliki tanaman anggrek bulan, dan anggrek-anggrek itu hidup di alam bebas. Kebetulan, sewaktu saya membangun rumah, arsitek saya seorang mahasiswa Universitas Udayana, ayahnya yang juga seorang arsitek memiliki tanaman anggrek. Di situ saya melihat ada sekitar dua ratus anggrek bulan yang semuanya sedang berbunga. Saya terkejut. Itu pemandangan yang spektakuler. Pemandangan itu menyentuh hati saya. Jiwa saya seperti terbuka. Saya merasakan bagai ada kontak batin dengan alam semesta. Mulai dari situlah saya jatuh cinta pada anggrek. Itu terjadi sekitar tahun delapan puluhan.".

Milo Migliavacca

Sejak tahun delapan puluhan itulah Milo mulai memelihara anggrek. Ia mencari beragam jenis anggrek ke pelosok desa di Bali. Tahun 1982 Milo beserta rombongan pencinta anggrek Indonesia dan Badan Pengembangan Ekspor Nasional, berangkat ke Paris. Dari sana ia membawa anggrek bulan (Phalaenopsis) ke Bali. Padahal, menurutnya, spesies anggrek itu berasal dari Indonesia. “Negara asal semua anggrek bulan, adalah Indonesia" jelasnya.

Mulai tahun 1987 Milo menjadi anggota American Orchid Society (AOS), Australian Orchid Society, dan Royal Orchid Society. Dengan keanggotaan tersebut, setiap bulan menerima kiriman buku tentang anggrek. Berbagai foto anggrek spesies, penjelasan tentang cara pemeliharaan anggrek spesies maupun hibrida semua ada dalam buku itu. Pengetahuan Milo tentang anggrek pun makin bertambah. “Koleksi buku-buku saya mulai tahun 1987 hingga sekarang masih ada. Harga bukunya sekitar 50 ribu rupiah. Foto-fotonya bagus-bagus." tambahnya.

Milo merasa banyak manfaat yang ia peroleh dari keanggotaannya di berbagai organisasi anggrek itu. Dan api cintanya pada bunga eksotis pun ini semakin menggelora.

 

Eksplorasi Anggrek

Milo terus melakukan eksplorasi tentang anggrek hingga pada tahun 1999 ia bersama teman-temannya mendalami kultur jaringan di Tretes, Malang, Jawa Timur. Di sana mereka melakukan kursus kilat teknik pembuatan anggrek kultur jaringan. Sejak tahun 1999, Milo juga mulai menciptakan anggrek hibrida sendiri. Menyilang dan mengawinkan anggrek hibrida di dalam laboratorium yang dibangunnya. Menurutnya, penyilangan itu memberikan hasil yang bagus, dan itu membuatnya lebih bersemangat lagi. Di rumahnya, kini terdapat sekitar 30.000 tanaman anggrek!

Eksplorasi anggrek 01

Selain membangun laboratorium di Seminyak, Milo juga memiliki laboratorium sekaligus kebun anggrek di Goblek, Singaraja. Pada ketinggian 1.100 meter di atas laut itulah Milo membudidayakan anggrek-anggreknya. Dengan ribuan jumlah anggrek yang dimilikinya, pria berdarah Italia ini menjual anggrek-anggrek tersebut ke berbagai kolektor anggrek di seluruh dunia.

Eksplorasi anggrek 02 Eksplorasi anggrek 03

Sukses Milo dalam membudidayakan anggrek tidak terlepas dari perhatian khusus yang diberikannya pada tanaman itu. Selain terus belajar, hampir setiap hari ia terjun langsung mengawasi para pegawainya, yang ada di Seminyak, maupun di Goblek, Singaraja.

“Meski kebun saya di Goblek jauh, saya langsung mengontrolnya sendiri…”

 

Suhu Udara Yang Berbeda

Lokasi dan suhu yang berbeda antara Seminyak dan Goblek, tentunya berpengaruh pada tanaman anggrek. Seminyak terletak di tepi pantai, lokasi yang masih termasuk dalam areal pantai Kuta ini, bersuhu panas, sedangkan Goblek terletak di dataran tinggi yang bersuhu dingin. Anggrek dari dataran tinggi sulit beradaptasi di dataran rendah. Itu sebabnya, Milo memisahkan tempat budidaya kedua jenis anggrek tersebut.

Menurut penuturan Milo, anggrek spesies berasal beberapa abad yang lalu. Anggrek-anggrek ini banyak terdapat di negara-negara tropis seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Kolombia, dan Filipina. Ada kisah tersendiri mengapa anggrek itu bisa ditemui di negara-negara Eropa hingga Amerika.

“Yang membawa anggrek-anggrek itu adalah para tentara Inggris. Mereka mengambilnya dari koloni-koloni Inggris seperti Malaysia, Filipina, Indonesia dan negara-negara tropis lainnya. Tanaman itu kemudian menyebar hingga ke Jerman, Prancis, dan Amerika. Mereka merampas anggrek-anggrek itu dari negeri asalnya dan mengirim tanaman tersebut ke negeri mereka.”

Milo berpendapat, mungkin 90% persen anggrek-anggrek itu mati saat dikirim ke negara-negara para perambah anggrek itu. Tapi sisa yang hidup, mereka kawinkan hingga menjadi banyak dan terus berkembang. Menurut Milo, setelah Perang Dunia II, pusat pengembangan anggrek yang besar saat itu adalah Setelah Perang Dunia II, tentara-tentara Amerika membawa pulang anggrek-anggrek itu.

“Padahal, sebelumnya di Hawaii tidak ada tanaman anggrek. Anggrek-anggrek itu dibawa dari negara-negara seperti Indonesia” tambahnya.

 

Perkembangan Anggrek Spesies

Milo berpendapat, saat ini secara komersial perkembangan anggrek tidak terlalu mencuat. Justru yang menjadi masalah adalah fenomena meruaknya anggrek hibrida yang dilakukan negara-negara seperti Thailand, maupun Singapura. Pasalnya, hampir semua anggrek hibrida yang berkembang di Indonesia>, berasal dari Thailand. Padahal di Indonesia banyak jenis anggrek spesies yang bisa dijadikan dasar untuk dijadikan anggrek hibrida.

Perkembangan anggrek spesies 01

Jika dilakukan secara profesional maka budidaya anggrek spesies menjadi anggrek hibrida, memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Seandainya pembuatan anggrek hibrida dibuat dengan cara yang benar, maka akan menjadi bisnis yang besar.

“Malaysia dan Thailand sudah melakukan hal itu. Mereka mengembangkan anggrek spesies menjadi hibrida. Hasilnya menjadi sebuah bisnis yang besar dan sangat menguntungkan.Sebenarnya kita lebih kaya daripada mereka. Kita perlu lebih giat untuk mengembangkannya.” ungkap Milo.

Perkembangan anggrek spesies 02

Melihat kenyataan di mana anggrek hibrida dari Thailand, Malaysia, maupun Singapura lebih bisa berbicara di dunia internasional, kadang membuat kita miris. Padahal, ini bukanlah pertanda bahwa orang-orang Indonesia lebih miskin daripada orang Malaysia. Di sudut-sudut perkampungan Malaysia, banyak juga orang yang miskin, ungkapnya lagi.

 

Anggrek Spesies Tidak Akan Habis

Milo memperkirakan bahwa anggrek spesies tidak akan habis, meskipun di beberapa habitat aslinya mungkin tanaman itu semakin jarang ditemui. Tapi sekarang pemerintah sudah mengantisipasinya. Pengiriman anggrek spesies ke luar negeri lebih diperketat.

“Sebenarnya pemerintah sejak lama sudah mengambil tindakan tegas, hanya masyarakat kita saja yang tidak mematuhi. Dengan peraturan ketat, keberadaan anggrek-anggrek spesies dapat terus terdeteksi. Sekarang, jika kita ke Papua, sulit membawa anggrek spesies ke luar. Tapi kalau saya ke Jakarta, tepatnya di Ragunan, kita bisa membeli anggrek spesies di sana. Jadi, sebenarnya, kalau mau beli spesies tidaklah sulit."

Milo juga menyarankan agar mulai sekarang budidaya anggrek spesies dalam botol terus digalakkan. Dengan begitu anggrek spesies akan tetap lestari. Tambahan lagi, saat ini masyarakat mulai sadar untuk menyelamatkan dunia dari ancaman pemanasan global, pembalakan liar, dan perambahan hutan secara membabibuta. Kini, pemerintah pun semakin peduli dalam menangani masalah anggrek spesies dan anggrek jenis lainnya.

“Juga sekarang untuk izin ekspor lebih sulit, apalagi kalau mengirimnya secara illegal. Padahal jika mengekspor secara legal semuanya menjadi mudah."

Proses pengiriman anggrek spesies yang ketat, bertujuan untuk melindunginya dari kepunahan. Efeknya, masa depan anggrek hibridalah yang kini terlihat lebih cerah. Budidaya anggrek spesies saat ini lebih ditujukan untuk keperluan konservasi. Tapi hibrida tidak. Kekuatan atau daya tahan anggrek spesies dan hibrida memang berbeda. Meskipun hibrid lebih potensial dibisniskan, namun daya tahannya tidak sekuat spesies.

“Saat saya membeli anggrek hibrid di Thailand atau Singapura, kalau hibridanya banyak dikloning, kekuatannya menjadi rendah sekali. Anggrek hibrida berkembang dengan penanganan khusus berarti rentan tercemar oleh binatang seperti ulat, bekicot, hujan, tunggi, dan bakteri. Tapi anggrek spesies kuat hidup di alam. Anggrek ini juga memiliki raga yang kuat. Itu sebabnya, jika mau menanam anggrek, kita juga harus bisa menjaga kelangsungan hidupnya. Caranya dengan lebih memperhatikan jenis tanaman itu. Dari pada kita membeli bunga mawar yang dalam tempo hari saja sudah mati, bukankah akan lebih baik kita membeli anggrek yang bisa bertahan selama satu bulan. Dengan begitu kita bisa membuat satu produk yang berkualitas.” terang Milo.

 

Penjualan Dalam Negeri Terlalu Kompetitif

Dari sekian ribu anggrek yang ada di kebunnya, tentu perlu dipikirkan juga cara menjualnya. Milo mengakui, ia juga harus memikirkan segi bisnisnya. Untuk itu, ia menjual hasil budidaya anggrek-anggreknya ke seluruh dunia.

Menurut Milo, kalau dijual di dalam negeri terlalu kompetitif dan etika bisnisnya sangat panjang. Contohnya, bila dalam sebuah pameran semua petani anggrek sepakat menjual tanamannya seharga lima puluh ribu, tiba-tiba karena sepi pembeli, saat ada orang menawar dua puluh lima ribu dijual. Besoknya, semua harga anggrek berubah menjadi dua puluh ribu rupiah. “Ini tidak etis. Makanya kebun anggrek saya yang di Goblek khusus untuk ekspor ke negara-negara Eropa. Di sana kesepakatan harga sudah tertulis secara resmi.” katanya.

Harapan Milo ke depan adalah, anak buahnya melakukan yang seharusnya mereka lakukan. Sebab, berkecimpung di tanaman anggrek selalu ada masalah dan resikonya tetap ada. Mengapa? Menurut Milo masyarakat kita masih keras kepala, terutama yang berkaitan dengan prosedur. Kalau semuanya bisa berjalan cepat, mengapa dibuat lambat?

“Coba lihat Malaysia, negara itu sukses menangani anggrek. Padahal yang banyak bekerja di sana adalah pekerja asal Indonesia. Selain itu, hampir seluruh pembangunan di Malaysia dikerjakan pekerja asal Indonesia. Mengapa di negara orang mereka rajin, tetapi di negeri sendiri tidak? Sedih saya melihatnya. Mungkin di sana mereka memperoleh pendapatan yang besar. Namun itu semua bukan jaminan. Saya coba di kebun saya. Saya memberikan perhatian besar untuk kesejahteraan anak buah saya, gaji merekapun pantas. Tapi rutinitas dasar muncul lagi. Kadang saya harus bersikap keras untuk mendorong motivasi kerja mereka. Kerja tidak serius kan tidak membuat kita maju!”

Harapan dan Cinta Milo Pada Indonesia

Pura

“Kita seharusnya, melalui media informasi yang sekarang berkembang pesat, seperti internet, bisa menjadikan keberadaan anggrek-anggrek itu sebagai komoditi ekspor yang menambah devisa negara, sekaligus mensejahterakan rakyat.” komentar Milo mengawali pembicaraan tentang fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini.

Milo merasa miris akan perkembangan media audio visual saat ini, khususnya media televisi yang berpengaruh erat pada generasi muda. Menurutnya, perkembangan media audio visual yang ada saat ini memiliki banyak sisi. Ada yang baik ada pula yang buruk.

Untuk nilai-nilai agama hingga lima belas tahun yang lalu masih kuat. Sekarang semuanya berbeda. Yang menjadi kuat adalah uang. Uang menjadi dewa yang dipuja-puja. Dan itu sudah terjadi di seluruh dunia. Hal ini sangat disayangkan, imbasnya manusia sudah tidak menghargai lagi alam.

Pura

“Saya terkejut saat datang kesini. Pancasila yang menjadi dasar negara sangat demokratis. Saya tidak pernah melihat ada sebuah negara di dunia yang dalam konstitusinya dikatakan semua agama itu. Ternyata, di Indonesia ada. Kan, beda sekali dengan negara-negara lain. Namun, sekarang ini, tentang Pancasila sudah jarang ibicarakan lagi."

Di samping itu, Milo juga menyoroti kalau masalah pendidikan juga memegang peran penting terhadap perkembangan pelestarian anggrek di Indonesia. Saat ini televisi menyuguhkan tontonan yang tidak edukatif bagi pemirsanya. Dan ini berpengaruh pada pola pikir generasi muda saat ini.

“Mengapa di televisi tidak diajarkan yang positif dengan kemasan yang fun, dan dalam waktu yang sama memberikan informasi yang positif. Mengapa tidak menggunakan konsultan untuk menangani hal itu? Ingat, negara Indonesia adalah negara yang kaya!” ujar Milo.

Ya Indonesia adalah negara yang kaya. Jika tidak dari sekarang kita memikirkan masa depan negara ini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Begitu pula dengan anggrek. Semoga sepuluh atau lima belas tahun ke depan keberadaan anggrek spesies tetap seperti sekarang.

Semoga!

Pengirim Tanggal Komentar
 
101167 2009-01-05 12:10:28  Bravo pa Milo, maju terus. Kalo mau tambahan info species dari kalteng, kami punya.
 
andisetiawan 2008-12-23 18:54:03  Pa milo mungkin persepsi kita sama didalam membudidayakan anggrek asli species dari indonesia. Saya sangat terhenyuh sesaat membaca artikel anda, walaupun anda mungkin tidak lahir di Indonesia tetapi kecintaan dan apresiasi anda terhadap kekayaan flora Indonesia sungguh menjadi tauladan. Pengetahuan saya akan anggrek sangat dangkal dibandingkan anda ..tetapi langkah2 yang anda lakukan sebagian sudah saya kerjakan di laboratorium sederhana saya di Cirebon. Kita bisa sharing Pa Milo terutama pengalaman anda dalam menangani anggrek. Mohon kontribusinya di http://anggrek59cirebon.wordpress.com/ atau di e-mail : andi_wonk_cerbon@yahoo.co.id dengan no HP : 081324183353, nama Saya Andi Setiawan berdomilisi di Cirebon. Mudah2 kita bisa bekerja sama dimasa yang akan datang. Salam Anggrek
 
Hindun 2008-10-04 22:58:19  Hindun Saya kagum dengan usaha pak milo melestarikan anggrek Indonesia membuatku semakin cinta dengan anggrekku
 
gigantea 2008-07-04 20:02:20  salam saya mohon bantuannya,tentang vanda foetida. makasih
 
Thomjoon 2008-05-19 12:43:30  Isinya memang bagus seperti nama rumah-bagoes. Saya terkesimak dengan munculnya artikel tentang Pak Milo. Pertanyaan saya apa tidak ada Milo ... Milo Indonesia sperti beli I Gde Putu Wijayana, pasti ada dan optimis. Sayagnya bangsa kita masih bingung BBM n bingung apa yang akan dimakan..... takusah bingung conto didepan mata ada yi beli Milo. salut....salut n huebat. Ibu Latifa kita punya teman beli Milo. Aku suka berandai-andai ... andaikata setiap orang perhatian dan mencintai satu pohon anggrek pasti....pasti Indonesia dipenuhi anggrek n menjadi Taman nyata anggrek di dunia. Maaf beli Milo kataku bila tidak ada yang berkenan nati bila ke Bali akan kukunjungi, pakdhethoms.
 
iyus 2008-05-09 10:01:14  Milo aja mau dan mampu ngelestariin anggrek Indonesia. Trus, kita yg notabene orang Ind, gimana ? :). Kalo bukan kita, siapa lagi ? Kalo bukan sekarang, kapan lagi ? :) -iyus- http://blogseriyus.wordpress.com/
 
Dian Rahardjo 2008-05-08 18:20:27  Ini dia artikel yang menarik!! Semoga website rumah-bagoes semakin bagus dan bagus.. Salam anggrek!
 
bona 2008-05-08 16:35:00  "selamat!!! website anda telah berkontribusi dalam pengembangan ANGGGREK di Indonesia!!"